Menjadi Saudara Seiman (Tidak Hanya Ketika Syuro’ dan Berbagi Amanat)
“ orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS Al-Hujuraat:10)”
Bismillahirrahmanirrahim…
Setiap orang beriman adalah bersaudara. Kita tahu itu. Makanya kita mencoba membiasakan memanggil kawan kita sesama muslim dengan sebutan Akhi dan Ukhti. Kita menyebut diri kita ikhwan dan akhwat. Saudara dan Saudari. (Saya sendiri kalau boleh jujur merasa belum pantas menyebut diri sebagai ikhwan.) Setiap kali bertemu kita mencoba menemui mereka dengan penghormatan layaknya seperti seorang saudara. Kita jabat tangan mereka dengan erat, kita tatap wajah mereka dengan senyum yang menghiasi muka. (Tentu saja tidak berlaku ketika pria bertemu wanita, sebab nanti bisa lain akibatnya) Salam pun terucap, “Assalamu’alaikum, ya akhi. Kayfa halukum?” “Wa’alaikumussalam, ya akhi. Alhamdulillah ana bi khair.” Begitu jawabnya.
Ikhwatifillah, sebagai saudara paling tidak ada empat hal yang harus kita perhatikan dalam ukhuwwah kita. Taaruf, tafahum, taawun dan takaful. Taaruf adalah ketika kita belajar mengenali saudara kita, berbagai hal tentangnya, kebiasaan, dan istiadatnya—tak hanya sekadar nama atau nomor kontak di HP saja. Tafahum adalah ketika kita mencoba memahaminya—tanpa harus memberi pembenaran ketika mungkin ia membuat kesalahan. Taawun merupakan saat kita saling menolong—dalam kebaikan tentunya, dan dalam banyak hal—bahkan (mungkin) ketika kantong terasa kosong melompong. Takaful adalah saat kita berkomitmen bersama menanggung amanah—jangan sehidup-semati, gue hidup dan lu mati, ini mah betul-betul parah.
Mari kita sejenak kembali menengok ke zaman Rasulullah saw. Bayangkan perang Badar. Bayangkan keadaan saat itu. Mujahidin kaum muslimin berjumlah sekitar tiga ratus orang—dihadapi pasukan Kuffar dengan jumlah sekitar seribu. Tiga banding satu. Atau bahkan lebih dari itu. Sejarah mencatat, keunggulan jumlah itu tidak dapat menyelamatkan mereka dari kekalahan. Ibarat pertandingan sepakbola, pemain kaum muslimin tidak lengkap, hanya delapan orang saja. Sudah begitu lawannya dapat tendangan penalti pula—karena persentase orang-orang yang ahli berperang di kaum muslimin jumlahnya tidak sebanyak mereka. Pertolongan Allah jelas sangat berperan, namun satu hal yang patut digarisbawahi. Kaum kafirin itu meskipun unggul dalam jumlah, bukan tidak mungkin kalau mereka merasa sendirian ketika maju ke medan perang. Berbeda dengan kaum muslimin. Mereka dipersatukan oleh tauhid. Kaum yang mencintai saudaranya seperti mencintai diri sendiri. Bertanyalah, adakah jundi yang merasa bekerja sendiri dan ditinggalkan hari ini?
Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menyentil siapapun. Cuma mengajak diri saya dan antum semua bertanya kepada diri sendiri…Sudahkah kita menjadi saudara seiman sebenar-benarnya? Jangan-jangan kita hanya memanggil mereka akhi saat syuro tinggal sehari atau deadline acara sudah begitu meninggi bikin cemas di hati. Peka-kah kita sebagai qiyadah, apakah jundi kita hari ini punya masalah? Jangan-jangan kita membatasi hubungan kita di atas kertas, hanya hubungan struktural yang di kehidupan nyata nyaris tak berbekas. Peka-kah kita saudara kita lama tak kelihatan batang hidungnya, namun kita seringkali langsung memberi sanksi tanpa mencari tahu peristiwa apa yang melatarbelakangi. Wallahu a’lam bisshawab. |
|
Posted at 11:01 am by pemudamuslim
Permalink
Hadits ke-1 : Pahala Pekerjaan Ditentukan Niatnya
Amirul Mukminim Abi Hafsh Umar bin Khattab ra. berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda :
"Segala amal perbutan tergantung niatnya dan bagi setiap oraang hanyalah apa yang ia niatkan. Barang siapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan RasulNya. Barang siapa hijrahnya karena dunia yang ia harapkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya itu menuju yang ia inginkan".
(Diriwayatkan oleh dua orang ahli hadits : Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairy An-Naisaburi, di dalam kedua kitab tershahih di antara semua kitab hadits).
Posted at 09:04 pm by pemudamuslim
Permalink